Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2015

Puisi : Terdiam

by Erina Dwi Lestari

Angin berbisik tak bersuara
Dingin melambai tak berwujud
Hampa beramai-ramai menemani
Dan aku terdiam

Malam datang seiring hilangnya sang mentari
Gelap semakin pekat bulan tak berdaya
Hati yang kosong tanpa wajah menjadi semakin kosong
Dan aku tetap terdiam

Getir rasa semakin kejam menjilat
Manis lezat tak pernah lagi ku dapat
Hening kepolosan ku sudah terbiasa
Dan aku masih terdiam

Sinar mentari tak lagi menyapa
Siang menyengat tak dapat menyilaukan
Sesal terasa tak ada guna
Dan aku harus tetap terdiam

Detak nadi tak lagi berirama
Desiran nafas tak kan lagi ku rasa
Inilah cerita tentang akhir segalanya

Karena ku hanya dapat terdiam

Puisi : Hilang



Hilang
By Erina Dwi Lestari

Mengapa ada cinta di saat cinta tak miliki cinta
Dari awal kuyakini, engkaulah pemilik rusukku
Dari awal kuamini, kau kan setia padaku
Meraba masa depan, harap indah bayangan cerah

Ucap rayu manismu membelai pendengaran
Desah nadi hidupku, ku berikan tak ada kurangnya
Tapi kau biarkan semua berlalu bagai debu tertiup lembayu
Biarkan ku merangkak tertatih mulai berjalan
Sakit memang tanpa awal jelas dan akhir jelasnya
Memikir kau terpejam pergi, ku bernafas menunggu

Air mata kosong semakin deras berurai
Kosong hampa tak tahu apa
Ku berdiri walau ku tak ingin berdiri
Ku berjalan walau ku tak sanggup berjalan
Ku tundukan pandangan, ku sematkan rindu di hati
Dan tak biarkan kau berlalu

Senyum-senyum luka ku coba kembangkan
Senyum hampa tak berarti apa
Ku bosan walau ku tak mengerti bosan
Ku benci walau ku sanggup membenci
Ku angkat pandangan, ku sematkan cinta semati

Dan tak biarkan ku terlalu