Sabtu, 11 April 2015

Puisi : Hilang



Hilang
By Erina Dwi Lestari

Mengapa ada cinta di saat cinta tak miliki cinta
Dari awal kuyakini, engkaulah pemilik rusukku
Dari awal kuamini, kau kan setia padaku
Meraba masa depan, harap indah bayangan cerah

Ucap rayu manismu membelai pendengaran
Desah nadi hidupku, ku berikan tak ada kurangnya
Tapi kau biarkan semua berlalu bagai debu tertiup lembayu
Biarkan ku merangkak tertatih mulai berjalan
Sakit memang tanpa awal jelas dan akhir jelasnya
Memikir kau terpejam pergi, ku bernafas menunggu

Air mata kosong semakin deras berurai
Kosong hampa tak tahu apa
Ku berdiri walau ku tak ingin berdiri
Ku berjalan walau ku tak sanggup berjalan
Ku tundukan pandangan, ku sematkan rindu di hati
Dan tak biarkan kau berlalu

Senyum-senyum luka ku coba kembangkan
Senyum hampa tak berarti apa
Ku bosan walau ku tak mengerti bosan
Ku benci walau ku sanggup membenci
Ku angkat pandangan, ku sematkan cinta semati

Dan tak biarkan ku terlalu

Rabu, 08 April 2015

Puisi : Sang Penderita


SANG PENDERITA
By Erina Dwi Lestari

Gurat-gurat keriputnya dibiarkan lembab oleh air penuh rasa
Yang keluar dari kedua mata buramnya
Seolah meyakinkan kepada dunia
Cerita yang pernah ia lalui bersama

Bahagia hanya sekedar senyuman
Senyuman semu sekilas lalu
Derita bagai santapan malam
Kesedihan tak beda dengan tidur siang

Indah dunia kadang ia rasa
Pahit dunia selalu di dada
Serasa ingin berlalu
Lupakan pilu bagai tak pernah tahu

Namun itulah ia dan kisahnya
Kelu sendu pilu lezatnya
Impian tak bisa lagi ia haturkan
Pertahanan kisah derita yang dibutuhkan

Puisi : Dahimu!



DAHIMU!
Erina Dwi Lestari

Sebuah mitos penuh harapan palsu
Konon, Tujuh Belas Agustus Tahun Empat Lima
Negara itu merdeka, katanya
Skeptis terdengar
Raung hati tak menanggukkan
Siapa dan untuk apakah merdeka

Dalam kemerdekaan uzhurnya
Moral tak berharga, katanya
Uang di atas segala-galanya
Kami yang berkuasa
Kami pula yang berbahagia

Apalah itu
Mitos hanya sekedar mitos
Katanya bukan katanya
Yang konon hanya dahimu yang mengamini
Petaka besar bagi alas seperti kami

Inilah kami, beginilah kami
Tuk mengisi perut pun harus mengikis sisa tenaga yang tersisa
Menjilat dahimu pun kami lakukan untuk bisa tetap bernafas
Apalah kami, siapalah kami
Tak lebih dari sekedar kutu busuk yang ada di kasurmu
Pun kau beri puntalan kekuasaan di mulut kelu ini
Ditambah sedikit receh dari kantong-kantong alasmu
Buat kami silau akan mulianya akhlak topeng dahimu

Puisi : Suara Sepi Temaram


SUARA SEPI TEMARAM
Erina Dwi Lestari

Kilau wajah yang semakin meredup nyeringai di tepian senyum
Senyum dalam pembentuk pusara di pipi, pudar oleh balaunya angin
Angin yang membelai kulit tak henti-hentinya merengek
Merengek, meminta, menuntut untuk tetap kekal abadi

Lintas dimensi syaraf yang tertaut di balik tulang tengkorang yang kokoh
Tak sejalan dengan isi di ubun-ubun
Hati, perasaan, pikiran, bawah sadar, tabiat, entah istilah omong kosong lainnya?
Omong kosong untuk dimengerti
Di mengerti dan tak bisa mengerti

Sang binatang buas yang berbicara ini jauh lebih kejam dari apa pun yang ada di belantara
Mencari makan tak bertakar malu
Melakukan apa yang serigala atau babi hutan pun tak sudi melirik
Sel baik hati nan mulia terganti sel jahanam pewarisan makhluk yang digambar bertanduk oleh Penciptanya
Yang tak pernah berharap sang binatang menjadi rekan

Cih! Siapa kau!
Aku sekuat ombak samudera
Tak terkalahkan, terbayar sang jahanam
Merasa berkuasa melebihi Tuhan

Sejagat sepi ku dengar bising temaram penuh kesah
Kesah kecil yang bahkan tak berarti lebih dari sekedar kotoran di balik bayang ilusi
Di manakah milikku?
Tak adakah arus yang mau menampungya?
Sudikah kiranya sang mulia mencicipi merdu dendangnya?

Sebuah hati kecil yang tak bersuara
Oleh binatang yang dibinatangkan
Tak berdaya, bukan siapa dan apa
Takut berharap perubahan

Takut bermimpi kebahagiaan, rindu akan kebahagian